Dapatkan berbagai manfaat
dengan bergabung bersama kami di HRCentro
DAFTAR SEKARANGSebagaimana telah diuraikan tulisan sebelumnya bahwa untuk mempelajari hubungan Manajemen SDM dengan Kemampuan Kinarja kita membutuhkan beberapa kajian/teori. Teori berikutnya adalah ;
Teori Normatif Tentang Manajemen SDM.
Teori-teori normative lebih memberikan petunjuk dalam pendekatan, dengan menggambarkan pandangan bahwa ilmu pengetahuan menyediakan suatu dasar untuk menentukan tindakan terbaik atau menggambarkan sekumpulan nilai-nilai yang menunjukkan praktek terbaik. Salah satu contoh terbaik dalam pendekatan ini dikemukakan oleh Walton tentang pengawasan dan komitmen (Walton 1985). Dalam pendapatnya mengenai perbedaan antara dua pendekatan terhadap Manajemen SDM, dia mengikuti pendapat Mc Gregor (1960) yang mengatakan bahwa, pendekatan-pendekatan ini adalah ideal dalam kurun waktu 25 tahun, tetapi dalam praktek untuk mengharapkan hasil yang baik dan dapat dikembangkan anda tidak memiliki pilihan. Dia menggambarkan strategi komitmen sebagai dasar khusus bagi Manajemen SDM. Analisis yang sama dapat ditemukan didalam hasil karya Lawler (1986,1992). Lawler lebih suka memakai istilah keterlibatan daripada Manajemen SDM.
Hasil karya penulis (Guest, 1987) telah mencoba menangkap beberapa inti dari pendekatan ini dengan cara menghadirkan kedalam suatu kerangka ; logis, untuk menentukan beberapa hubungan sehingga model yang dihasilkan dapat di uji dan di sangkal. Hipotesis pokok menyatakan bahwa jika suatu penggabungan praktek Manajemen SDM ditetapkan kedalam suatu pandangan untuk mencapai tujuan-tujuan normative dari komitmen yang tinggi terhadap kemampuan organisasi serta kualitas dan fleksibilitas, maka kemampuan kinerja karyawan menjadi lebih baik. Asumsi yang timbul menyatakan bahwa hal ini akan menciptakan pengaruh yang kuat terhadap kemampuan kinerja organisasi. Tidak seperti pendekatan-pendekatan lainnya, teori normative ini menentang bahwa tindakan-tindakan dan tujuan-tujuan Manajemen SDM yang spesifik akan selalu kuat.
Pandangan ini menyebabkan masalah-masalah terhadap Manajemen SDM antara lain ;
1. Teori Normatif berfokus pada sifat-sifat internal SDM dengan mengorbankan masalah-masalah strategis yang lebih luas. Dalam melakukan dan menganjurkan tindakan-tindakan terbaik dengan mengabaikan berbagai tekananan dan strategi perusahaan, mengambil resiko demi menciptakan suatu “jalan terbaik”.
2. Pada saat tujuan-tujuan Manajemen SDM dapat ditetapkan, daftar yang berhubungan dengan praktek Manajemen SDM tidak jelas dan menanti spesifikasi teori yang jelas atau dasar empiric yang lebih kuat.
3. Pendekatan diatas memiliki dasar teori yaitu strategi perusahaan, dan teori system atau teori motivasi/perilaku organisasi. Setiap teori memberikan tingkat yang berbeda dalam analisis. Hanya teori yang kedua dan ketiga yang menentukan dimensi kebijakan dan praktek Manajemen SDM yang kemungkinan besar dapat membantu dalam pengukuran. Masalah akan menjadi jelas ketika melakukan penelitian empiris.
Teori Tentang Kemampuan Kinerja
Pada hakekatnya tidak ada teori umum mengenai kinerja. Beberapa pendekatan dan model yang sering digunakan atas perspektif ilmu-ilmu khusus seperti ekonomi, fisikologi, atau manajemen produksi yang dapat membantu dalam memahami dan menggolongkan aspek-aspek kemampuan kinerja.
Kemampuan Kinerja dan Hasil
Kemampuan kinerja merupakan suatu ukuran yang kuat bagi perusahaan pada saat hasil yang dicapai perusahaan mengalami kenaikan. Masalah-masalah tersebut meliputi masalah lingkungan, kepuasan bekerja, kontribusi terhadap kegiatan-kegiatan kelompok dan sebagainya. Berdasarkan analisis stakeholder, salah satu faktor yang digunakan dalam diskusi mengenai Manajemen SDM adalah konsep balanced scorecard. Secara sederhana dalam konsep ini ditetapkan bahwa tidaklah cukup hanya memfokuskan pada stu pandangan tentang kemampuan inerja dengan mengesampingkan faktor-faktor lainnya. Sebagaimana dikatakan dalam teori system socio-technical lama, penting untuk mengoptimalkan setiap dimensi dari pada memaksimalkan satu dimensi dengan mengesampingkan dimensi lainnya. Keuangan, pelanggan, dan jumlah karyawan merupakan item-item penting dalam scorecard. Kita perlu memperbanyak criteria kemampuan kinerja yang merupakan hal pokok dan penting dalam model deskriptif SDM dan merupakan faktor yang mutlak didalam Manajemen SDM. Hal ini dimaksudkan agar kita lebih hati-hati dalam menekankan salah satu perhatian dengan mengesampingkan faktor lainnya, terutama jika kita menggunakan cara pengukuran time series.
(Bersambung)