Menanti Gelombang Pensiun Besar PT DI pada 2014 Terancam Krisis Karyawan Jilid II
Posted by : wahyudi hari siswanto, 30 Maret 2010 11:49:33Kategori: Organisasi | Viewed : 192 | Rating:
[ Senin, 29 Maret 2010 ]
---Persoalan tenaga kerja yang membelit PT Dirgantara Indonesia (PT DI) pada 2003 terancam terjadi lagi. Bedanya, kali ini pemicunya bukan PHK (pemutusan hubungan kerja), tapi karena gelombang pensiun berjamaah yang bakal terjadi pada 2014.
---
SAAT ini PT DI memiliki 4.200 karyawan. Tapi, jumlah itu akan turun tiap tahun. Pada 2014, badan usaha milik negara (BUMN) produsen burung besi itu hanya akan dioperasikan 300 orang. ’’Yang senior banyak yang harus pensiun,’’ kata Manager Corporate Communication Rakhendi Triyatna saat ditemui di kompleks PT DI di Bandung pekan lalu.
Kondisi itu tak bisa dibiarkan. Apabila, jika tidak ada penanganan, grafik perkembangan PT DI yang terus menanjak bisa terjun bebas. Mereka akan mengalami persoalan krisis tenaga kerja. ’’Karena itu, secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan akan ada rekrutmen besar-besaran,’’ kata Rakhendi yang juga akan pensiun dua tahun lagi.
Tahun ini 25 orang akan ditarik menjadi karyawan. Pada 2011, sebanyak 700 lebih tenaga kerja akan direkrut. Mereka yang direkrut tidak hanya dari bagian produksi, tapi juga bagian manajemen perusahaan. ’’Setiap 300 orang yang direkrut terdapat 30 orang lulusan ITB (Institut Teknologi Bandung, Red),’’ kata lelaki 53 tahun itu.
Hingga sekarang, kata Rakhendi, PT DI masih cukup bisa mengandalkan tenaga dari dalam negeri. Pekerja di bagian produksi umumnya adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan atau umum. Selain SMK, tenaga sarjana yang diambil kebanyakan dari Teknik Penerbangan ITB.
Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengatakan, karyawan yang bekerja di PT DI tak perlu susah beradaptasi. Sebab, budaya kerja PT DI sudah sangat kuat terbentuk. Mereka yang bertugas mengebor dan mengecor aluminium alloy (bahan ringan kuat pembuat bodi pesawat) dan komposit cukup mengikuti para senior. ’’Dua bulan di sini kami training pasti sudah bisa,’’ katanya.
Soal tenaga kerja, PT DI memang tak punya banyak masalah. Yang menjadi masalah hanyalah peralatan dan mesin untuk membuat pesawat. Peralatan yang dipakai kini masih terbatas. Bahkan, untuk meng-handle order yang terus berdatangan, peralatan tersebut sampai overload.
Menurut Budi, pesawat dibuat dalam beberapa bagian yang terpisah untuk kemudian disatukan. Biasanya, panjang setiap bagian sekitar 5 meter. Nah, mesin yang berkapasitas 5 meter itulah yang cukup terbatas. Proses produksi menjadi lama karena mesinnya terbatas. ’’Harus antre,’’ kata Budi, lantas tersenyum. (aga/c4/iro)http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=125193