Dapatkan berbagai manfaat
dengan bergabung bersama kami di HRCentro
DAFTAR SEKARANG
Sebagian besar praktisi HR memandang media sosial sebagai musuh yang mengganggu produktivitas kerja. Mengapa tidak memanfaatkannya untuk meningkatkan pengetahuan organisasi? Tak hanya itu, media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk aktivitas rekrutmen, sosialisasi kebijakan perusahaan, dan meretensi karyawan.
Sadar atau tidak, dunia tempat kita berpijak sedang mengalami perubahan. Thomas L. Friedman dengan berani menyebut dunia saat ini menjadi datar. Ungkapan ini tentu bertolak belakang dengan penemuan Christopher Columbus yang mengelilingi dunia hanya untuk membuktikan bahwa Bumi ini bulat. Namun, pengalaman Friedman saat berkunjung ke Bangalore, India, telah membukakan matanya bahwa Bumi tempatnya berpijak telah berubah menjadi datar. Bagaimana bisa?
Penulis buku ”The World Is Flat” ini punya alasan yang masuk akal mengapa mengatakan demikian. ”Di Bangalore ini salah seorang insinyur paling cerdas di India, lulusan sekolah teknik terbaik di negerinya, didukung teknologi paling modern, mengatakan kepadaku bahwa dunia ini datar, sedatar layar tempat ia memandu rapat seluruh mata rantai pemasok dunia yang dipimpinnya,” ungkap Friedman.
Dalam pandangan Friedman, dunia menjadi datar mengandung makna bahwa semakin banyak orang dimungkinkan untuk bekerja sama dan bersaing di banyak bidang kerja dengan lebih banyak orang dari berbagai negara, baik melalui komputer, e-mail, jaringan serat optik, konferensi jarak jauh, maupun perangkat lunak yang dinamis.
Harus diakui, kita makin tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Teknologi informasi telah memudahkan kita menembus berbagai tempat yang dulu tak dapat kita jelajahi. ”Ketika kita berpikir bahwa dunia ini datar, atau setidaknya dalam proses menjadi datar, banyak hal menjadi lebih mudah dipahami daripada sebelumnya,” tulis Friedman. Ia memandang, mendatarnya dunia berarti semua pusat pengetahuan di planet ini terajut menjadi jaringan tunggal, yang bila tidak dirusak oleh politik dan terorisme akan mampu menyejahterakan manusia, pembaharuan, dan kerja sama antarperusahaan, masyarakat, maupun pribadi, yang mengagumkan.
Di sisi lain, dunia menjadi datar juga menimbulkan kecemasan. Karena, bukan hanya orang-orang baik yang akan menyatu untuk berbagi pengetahuan dan bekerja sama untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Di belahan lain, para teroris dan penjahat kerah putih tak ketinggalan memanfaatkan datarnya dunia untuk meracuni pikiran orang dan mengembangkan aksi-aksinya. Kita tentu tahu bahwa globalisasi sedang berlangsung. Tetapi, mungkin, kita belum sepenuhnya menyadari kekuatan di baliknya. Menurut Friedman, globalisasi telah mencapai tingkat yang sama sekali baru. Sekitar tahun 2000 kita memasuki masa baru: Globalisasi 3.0. Sebelum membahas Globalisasi 3.0, saya ingin memberitahukan pandangan Friedman mengenai Globalisasi 1.0 dan 2.0.
Ia menjelaskan, Globalisasi 1.0 berlangsung sejak 1492, ketika Columbus berlayar, membuka perdagangan antara dunia lama dan dunia baru, hingga sekitar tahun 1800. Proses ini menyusutkan dunia dari ukuran besar menjadi sedang. Globalisasi 1.0 terkait dengan negara dan otot. Dalam Globalisasi 1.0 pelaku utama perubahan atau kekuatan yang mendorong proses penyatuan global, adalah seberapa gigih, seberapa besar otot, dan seberapa besar tenaga kuda, tenaga angin, dan tenaga uap yang dimiliki suatu negara serta kreativitas untuk memanfaatkannya.
Masa Globalisasi 2.0 berlangsung dari sekitar 1800 hingga 2000 dengan diselingi oleh masa Depresi Besar serta Perang Dunia I dan II. Masa ini menyusutkan dunia dari ukuran sedang ke ukuran kecil. Dalam Globalisasi 2.0, pelaku utama perubahan atau kekuatan yang mendorong proses penyatuan global, adalah perusahaan-perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan ini mendunia demi pasar dan tenaga kerja, dengan dipelopori oleh Revolusi Industri serta ekspansi perusahaanperusahaan yang bermodal gabungan dari Belanda dan Inggris. Kekuatan di balik globalisasi masa ini adalah terobosan di bidang perangkat keras, berawal dari kapal uap dan kereta api, hingga telepon dan komputer induk.
Sekitar tahun 2000 kita memasuki masa baru: Globalisasi 3.0. Globalisasi ini menyusutkan dunia dari ukuran kecil menjadi sangat kecil, sekaligus mendatarkan lapangan permainan. Kalau motor penggerak Globalisasi 1.0 adalah mengglobalnya negara; dan motor penggerak Globalisasi 2.0 adalah mengglobalnya perusahaan, uniknya, motor penggerak Globalisasi 3.0 adalah kekuatan baru yang – menurut Friedman – ditemukan untuk bekerja sama dan bersaing secara individual dalam kancah global. Friedman memberi sebutan Globalisasi 3.0 sebagai ”Tatanan Dunia Datar” yang mampu menyatukan komputer pribadi di seluruh dunia tanpa menghiraukan jarak antarmereka.
Apa perbedaan antara ketiga mazhab globalisasi ini? Perbedaan nyata antara Globalisasi 3.0 dengan kedua masa sebelumnya tidak hanya dalam hal bagaimana menyusutkan dan mendatarkan dunia, serta bagaimana memberdayakan individu. Globalisasi 3.0 berbeda dari dua masa sebelumnya karena digerakkan oleh individu dan dunia usaha Amerika maupun Eropa. Globalisasi 3.0 memungkinkan begitu banyak orang masuk dan turut bermain. Tak heran jika kita melihat manusia dari berbagai warna kulit ikut ambil bagian dalam permainan ini.
Sementara itu, pengamat media sosial Yuswohady, dalam bukunya berjudul CROWD, mengajak setiap orang untuk membuka mata lebar-lebar. “Coba kita lihat Facebook. Situs jejaring sosial ini sedang digandrungi oleh anak SMA, mahasiswa, dan profesional di Jakarta. Saat ini anggota aktifnya sudah mencapai lebih dari 120 juta di seluruh dunia. Dengan jumlah tersebut, Facebook sekarang merupakan situs dengan trafik terbesar nomor empat di dunia.”
Hebatnya lagi, menurut Siwo – panggilan akrab Yuswohady, Facebook merupakan situs dengan aplikasi photo sharing terbesar di dunia mengalahkan Flickr yang mengkhususkan diri di situ. Lebih dari 10 miliar foto ditampung di Facebook dan lebih dari 30 juta foto di-upload setiap harinya. Tak hanya itu, lebih dari 6 juta pengguna aktif membentuk komunitas di Facebook.
Siwo sendiri kelihatan takjub dengan fenomena ini hingga memunculkan pertanyaan seperti ini: “Kenapa Facebook menjadi magnet yang begitu dahsyat?” Pertanyaan ini dijawab Siwo sebagai berikut: “Karena Facebook memiliki fitur-fitur cool yang memungkinkan kita berinteraksi, berkomunikasi, ngobrol, curhat, beropini, nampang, narsis, berbagi, memberi, peduli, berempati, berkomunitas, dengan sesama teman darimana pun di seluruh pelosok Bumi.
Harus diakui bahwa kemunculan Web 2.0 telah mengubah gaya hidup seseorang. Tools yang dilahirkannya mendorong orang untuk berinteraksi antarsesamanya dan membentuk komunitas. Kehadiran tools tersebut menjadikan siapa pun di muka Bumi ini begitu gampang membangun jejaring sosial (social networking) di mana mereka bisa begitu intens berinteraksi satu sama lain. “Internet kini telah menjadi media sosial terbesar dalam sejarah umat manusia,” Siwo berpendapat.
HR dan Media Sosial
http://www.portalhr.com/majalah/edisiterbaru/strategi/1id1611.html