teamwork
Posted by : arman adnan, 16 Januari 2012 00:20:37Kategori: Organisasi | Viewed : 132 | Rating:
Teamwork
Sejujurnya, ini kata Jacalyn Sherriton dan James L. Stern, penulis buku bertajuk Corporate Cultur, Team Culture: Removing the Hidden Barrier to Team Success. Masyarakat bisnis dunia sedang menghadapi perubahan yang paling besar dan paling traumatik. Perubahan tersebut, antara lain, perlunya berfokus dan beroperasi secara global dan perlunya tetap kompetitif di tengah berbagai perubahan. Situasi ini mengarahkan pada sebuah tantangan, yaitu bagaimana cara mengkoordinasikan fungsi-fungsi yang pada dasarnya sangat berbeda dan sangat khusus dalam suatu perusahaan. Ini adalah cara agar untuk bertahan hidup. Biasanya, menjawab tantangan tersebut, beberapa perusahaan mengambil kesimpulan praktis: membentuk tim formal. Di sini, kata kuncinya adalah formal. Barangkali, sejauh ini konteks tersebut masih relevan. Kerja tim bukanlah sesuatu yang baru. Paling tidak, setiap organisasi punya sejarah dengan apa yang namanya tim. Sekelompok karyawan, berkumpul bersama secara informal untuk berbagi gagasan atau memecahkan masalah. Ada yang memujinya, ada pula yang sangat menganjurkannya. Namun, tim-tim tersebut tak dianggap sebagai sesuatu yang formal dalam struktur organisasi dan jarang diakui dalam sistem kompensasi dan imbal jasa. Menghadapi tantangan perubahan saat ini, perusahaan segera bergerak pada pembentukan tim lintas fungsi yang bersifat formal, menggantikan struktur hirarkis tradisional yang menggunakan struktur matriks. Aliansi dari berbagai fungsi sangat menonjol. Tim yang bersifat antar bidang dan antar disiplin menjadi begitu mengemuka dan menjadi sebuah norma dalam budaya korporasi. Kita harus jujur, arif dan rasional dalam melihat sebuah hubungan antara pegawai dan manajemen. Kita bisa menganalogikan pola hubungan tersebut sebagai sebuah pasangan yang sedang menari. Masing-masing ounya peran berbeda, namun membangun keindahan gerak. Intinya, tak ada yang saling mengekang. Dalam membangun keindahan itu, Kadang-kadang mereka berhadap-hadapan, kadang-kadang berpegangan tangan dan tak jarang saling belakang-membelakangi. Tapi, apapun posisi dan peran masing-masing penari, pola tersebut mencerminkan sebuah dinamika yang menjadi landasan keindahan tarian tersebut. Beberapa pemimpin perusahaan melihat transisi menuju sebuah tim yang formal sangat mudah. Mereka mengeirimkan memo, mengadakan pertemuan dengan karyawan untuk menjelaskan secara ringkas kenapa dan betapa pentingnya tim, membuat penyesuaian-penyesuaian terhadap struktur organisasi dan mengelar sejumlah pelatihan. Dan, ini dia: “Kita sekarang bekerja dalam sebuah tim,” pikir mereka. Tentu saja, sesedrhana itu. Sebaliknya, transisi itu merupakan perjalanan yang panjang. Bergerak menuju sebuah tim formal mensyarat perubahan yang besar dalam budaya korporasi. Asal tahu saja, inilah tantangan kita yang sesungguhnya.