Dapatkan berbagai manfaat
dengan bergabung bersama kami di HRCentro
DAFTAR SEKARANG
Pilih Balik ke Kampus UGM
JAKARTA - Bayangan Anggito Abimanyu untuk duduk di kursi wakil menteri keuangan (Wamenkeu) sirna sudah. Sempat digadang-gadang sebagai kandidat kuat, kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) itu ternyata tak mendapat tempat. Keputusan mengejutkan pun diambil. Anggito mundur dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Ditemui setelah serah terima jabatan menteri keuangan di kantor Kemenkeu kemarin (20/5), Anggito tampak santai. Apakah keputusan mundur itu dilandasi kekecewaan karena dirinya tidak terpilih sebagai wakil menteri? Inilah jawabannya.
’’Kan saya sudah bilang. Sejak enam bulan ini, seharusnya saya sudah ditempatkan sebagai Wamen (wakil menteri keuangan, Red). Tapi, kan belum ada kepastian sampai sekarang. Jadi, begitu ada Wamen yang definitif, ya sudah,’’ ujarnya lirih.
Pada 6 Januari lalu, rencananya presiden melantik wakil menteri keuangan beserta beberapa wakil menteri lain. Saat itu, Anggito yang menjabat kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) disebut-sebut sebagai kandidat.
Namun, pelantikan Anggito ditunda karena saat itu dirinya masih berstatus PNS eselon I B. Padahal, sesuai aturan, wakil menteri harus sudah berstatus PNS eselon I A. Namun, pada 24 Februari lalu, pangkat Anggito sudah dinaikkan menjadi eselon I A. Dengan demikian, pria yang dikenal jago dalam hal fiskal itu kini sudah memenuhi kriteria untuk menduduki kursi Wamenkeu. Namun, ternyata jabatan tersebut tak mampir ke Anggito.
Menurut dia, dirinya sebenarnya mengajukan pengunduran diri sejak beberapa waktu, bahkan sebelum Sri Mulyani menyatakan mundur sebagai Menkeu. ’’Tapi, baru hari-hari ini saya sampaikan,’’ ungkapnya. Namun, Anggito menyiratkan bahwa keputusan mundur itu bukan tanpa alasan.
Jika mundurnya Sri Mulyani diibaratkan sebagai langkah kemenangan, lantas apa arti pengunduran diri Anggito? ’’Saya memberikan suara hati saja. Bahwa pasti siapa pun akan punya sikap dan harga diri terhadap sesuatu. Saya tidak mau menghakimi siapa-siapa. Itu merupakan ungkapan saya sendiri,’’ paparnya.
Tapi, dia juga membantah tidak terpilihnya dirinya sebagai Wamenkeu yang memicu pengunduran diri itu disebabkan adanya alasan politis. ’’Nggak ada... nggak ada,’’ tegasnya. Apakah sakit hati? ’’Ya enggak lah,’’ jawabnya lantas tertawa.
Kemarin, setelah serah terima jabatan, Anggito menyempatkan diri bertemu Agus Martowardojo, menteri keuangan yang baru. ’’Tadi saya menyampaikan (pengunduran diri). Menghadap Pak Menteri (Agus Marto) dulu, bicara heart to heart (dari hati ke hati, Red) dengan dia,’’ ujarnya.
Kalau tidak diizinkan mundur bagaimana? ’’Nggak tahu saya. Belum tahu,’’ ucapnya lantas menghela napas.
Tampaknya, pengunduran Anggito tidak akan diluluskan begitu saja. Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyuarakan keinginannya agar Anggito tetap bertahan di Kemenkeu. Dia menegaskan bahwa Kemenkeu masih memerlukan pikiran dan tenaga Anggito.
’’Pokoknya, kita masih memerlukan Pak Anggito. Orang meminta mundur kan boleh ditolak, tidak harus disetujui kan?’’ katanya setelah serah terima jabatan di kantor Kemenkeu kemarin.
Namun, Hatta mengisyaratkan, jika memang Anggito bertahan, bisa jadi dia akan dipindah dari pos Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Institusi baru di Kemenkeu tersebut memang dibidani dan dipimpin Anggito sejak 2007. Saat ditanya apakah Anggito akan tetap menempati pos kepala BKF, Hatta menjawab diplomatis. ’’Nah, kalau itu, kita lihat nanti,’’ ujarnya lalu tersenyum.
Tapi, yang jadi masalah, Anggito justru tidak meyakini sumbangan pikiran dan tenaganya masih dibutuhkan di Kemenkeu. Saat ditanya bukankah tenaganya masih dibutuhkan, dia menjawab singkat. ’’Nggak tahu, saya masih nggak tahu,’’ jawabnya.
Sebelumnya, saat ditemui di istana setelah pelantikan menteri keuangan dan wakil menteri keuangan, Hatta yang mewakili istana menegaskan, tidak terpilihnya Anggito tidak terkait dengan soal politik. Dia juga berjanji memberikan penjelasan langsung kepada Anggito mengenai kegagalannya menjadi Wamenkeu.
Dia mengungkapkan, tidak ada tekanan politik yang membuat kepala BKF Kemenkeu tersebut terpental. ’’Tidak ada itu. Saya akan bicara dengan Pak Anggito supaya tidak salah paham. Pak Anggito orang bagus, cekatan dan pekerja keras. Kita butuh orang seperti itu,’’ ujarnya.
Meski demikian, beberapa rumor berembus. Sebab, Anggito memang sempat dikait-kaitkan dekat dengan Partai Golkar. Politisi Partai Golkar di DPR memang gencar menjagokan Anggito sebagai calon Menkeu. Namun, jabatan Menkeu tak diraih, dia juga terpental dari posisi Wamenkeu.
Dari sisi kemampuan, Anggito sebenarnya sangat mumpuni. Bahkan, bisa dikatakan, dialah otak penyusunan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dalam beberapa tahun terakhir. Dalam rapat-rapat di Badan Anggaran DPR, kemampuan Anggito tampak menonjol. Bahkan, untuk urusan teknis, dia lebih menguasai daripada Sri Mulyani.
Dengan pengalaman serta kemampuannya, Anggito bisa menghitung dampak lanjutan naik turunnya target pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, maupun harga minyak terhadap berbagai postur APBN seperti penyerapan tenaga kerja hingga subsidi BBM maupun listrik. Semua itu bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit.
Dimintai komentar, menteri keuangan yang baru saja diganti, Sri Mulyani, juga mengakui bahwa Anggito telah mengajukan surat pengunduran diri dari Kemenkeu. ’’Saya mendengar dan sudah dilapori bahwa ada surat yang disampaikan beliau kepada Menkeu,’’ ungkapnya.
Dia menyatakan belum membaca surat itu. Namun, dia segera menyerahkannya kepada Menkeu yang baru, Agus Martowardojo. ’’Saya akan menghormati setiap keputusan pejabat. Kami juga ingin setiap orang dihormati agar mereka melakukan tugas dengan baik dan profesional serta tidak menimbulkan hal-hal yang mungkin dianggap atau dipersepsikan yang salah. Saya rasa, itu yang paling baik,’’ ujar Sri Mulyani.
Lalu, jika jadi mundur, akan ke manakah Anggito? ’’Saya akan kembali ke Kampus UGM (Universitas Gadjah Mada). Ini sebetulnya menjadi keinginan saya sejak awal. Sudah 10 tahun kan (meninggalkan kampus). Jadi, ini saatnya saya untuk kembali. (Kampus) itu rumah saya,’’ ungkap Anggito.
Pria yang lahir di Bogor, 19 Februari 1963, tersebut memang dibesarkan UGM. Setelah memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi UGM pada 1985, dia melanjutkan studi dan meraih gelar master of science pada 1990 di University of Pennsylvania, Philadelphia, AS. Pada 1993, dia memperoleh gelar PhD dari universitas yang sama.
Setelah itu, Anggito aktif menjadi akademisi di UGM. Dia pernah menjadi pengajar di Fakultas Ekonomi UGM. Selain itu, dia pernah menjabat direktur Pusat Antar-Universitas UGM (1997-2000) dan direktur Program Pusat Antar-Universitas UGM (1995-1997).
’’Pokoknya, niat saya ingin pulag. Ingin mengabdi ke institusi yang membesarkan saya selama ini. Tidak ada kebencian dan kekecewaan, hanya kerinduan saya kepada kampus. Kebetulan, keluarga saya sudah boyongan ke Jogja,’’ tegasnya. (owi/sof/c5/iro)http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=showpage&kat=3