Pencari kerja lebih memilih jadi PNS Tingkat Pengangguran di Sulut Masih Tinggi
Posted by : Frids Kowmbon, 17 Maret 2010 12:41:51Kategori: Recruitment | Viewed : 83 | Rating:
Manado, KOMENTAR Deputi Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Neddy Rafinaldy Halim mengungkapkan, jumlah pe-ngangguran di Sulut yang men-capai 13 ribu orang atau seki-tar 11,7 persen, masih ter-bilang tinggi. Sebab, jika di-bandingkan dengan rata-rata tingkat nasional hanya sebesar 6,99 persen dari jumlah pen-duduk yang ada. “Hal ini menandakan bahwa para pencari kerja lebih banyak yang memilih menjadi PNS dibandingkan dengan bidang kerja yang lain. Demikian juga dengan lulusan sarjana, sam-pai sejauh ini belum mampu menciptakan lapangan kerja,” ungkapnya di sela-sela sosia-lisasi dan motivasi Program Penumbuhan 1.000 Sarjana Calon Wirausaha Baru Bagi Pa-ra Calon Sarjana, Sarjana, Pembina dan Gerakan Kope-rasi, Senin (15/03). Fenomena tersebut, kata Neddy, memang sangat disa-yangkan, sehingga diharap-kan melalui program yang di gagas pemerintah ini, akan mengubahkan cara berpikir para lulusan sarjana ke arah yang positif. “Minat dan bakat dari para calon wirausaha ini harus terus ditumbuhkan. Sehingga nantinya akan memunculkan para wirausaha yang benar-benar dapat diandalkan oleh daerah ini,” tukasnya. Sementara itu, Sekprop Sulut Drs Robby Mamuaja menyam-but baik atas gagasan yang di-lakukan Kementerian Koperasi dan UKM, melalui upaya pe-ningkatan produktivitas dan daya saing serta secara sis-tematis dapat diarahkan pada usaha untuk menumbuhkan wirausaha baru. “Lebih khu-sus tentu di sektor-sektor yang memiliki produktivitas tinggi yang berbasis pengetahuan, teknologi dan sumber daya lokal,” katanya. Menariknya, dipaparkan Ke-pala Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Sulut Robby Assah SE MSi, kini telah mendaftar se-kitar 540-an sarjana mau pun calon sarjana yang siap untuk dicetak menjadi entrepreneur. Namun sangat disayangkan dari sebanyak itu, hanya se-kitar 20 persen yang dinya-takan memiliki naluri wira-usaha. Sementara selebihnya, bahkan ada yang lulusan S2 sama sekali tak memiliki visi yang jelas. “Ternyata modal pendidikan yang telah ditekuni sekian waktu itu, belum menjamin akan meluluskan sarjana yang siap menciptakan lapangan kerja. Bahkan saat kita mela-kukan wawancara minat dan bakat, hal itu sangat jauh dari yang kita harapkan,” tukas-nya sembari menambahkan bahwa respons baik pihak perbankan mau pun BUMD yang siap membantu membe-rikan kucuran dana, tak da-pat secara maksimal dimanfa-atkan.(eda)