Dapatkan berbagai manfaat
dengan bergabung bersama kami di HRCentro
DAFTAR SEKARANG [ Jum’at, 12 Maret 2010 ]
SYDNEY - Pembangunan ekonomi di kawasan timur Indonesia menjadi salah satu perhatian pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Itu tampak dari diikutsertakannya enam gubernur dari provinsi-provinsi di wilayah tersebut.
Secara terbuka SBY meminta para investor Australia menjalin kerja sama dengan kepala-kepala daerah di kawasan timur RI. ”Itu sebabnya, saya mengajak enam gubernur dari kawasan timur Indonesia dalam kunjungan ini,” kata SBY di depan pengusaha Australia dalam business forum di Hotel Shangri-La, Sydney, kemarin (11/3).
Enam kepala daerah yang ikut dalam kunjungan SBY adalah I Made Mangku Pastika (Bali), Barnabas Suebu (Papua), Bram Ataruri (Papua Barat), Zainul Majdi (NTB), Frans Lebu Raya (NTT), dan Karel Albert Ralahalu (Maluku). SBY memperkenalkan satu per satu gubernur itu di depan sekitar 180 pengusaha yang hadir dalam business forum tersebut.
Dalam forum itu SBY mengatakan telah bersepakat dengan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd untuk mengintensifkan hubungan. Salah satunya mengembangkan dan memperkuat bisnis dan hubungan ekonomi. Penekanannya ada pada enam provinsi itu dengan fokus pada ketahanan pangan, energi, dan pembangunan infrastruktur.
Pemerintah, lanjut SBY, berusaha membuat kebijakan yang mendorong kewirausahaan. Selain itu, pemerintah menfasilitasi para pelaku bisnis. ”Tetapi, tanpa Anda yang investasi, bisnis, perdagangan, dan industri tidak ada yang memfasilitasi,” kata SBY.
SBY mengatakan, Australia merupakan investor terbesar ke-12. Tahun lalu investasinya di Indonesia mencapai USD 79 juta. ”Mengingat kedekatan kita, statistik ini dapat kita kembangkan,” ujarnya.
Dia lantas menerangkan potensi Indonesia yang membuka peluang Australia untuk berinvestasi. Misalnya, soal sumber energi. Indonesia memiliki cadangan gas alam terbesar. Kemudian dalam sektor agribisnis. Indonesia tercatat sebagai pengekspor terbesar kakao dan kelapa sawit. ”Ada bidang investasi besar yang menunggu untuk Anda,” ajak SBY.
Di tempat terpisah, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wiryawan mengatakan, lima perusahaan multinasional Australia siap menanamkan modal senilai total USD 1 miliar (sekitar Rp 9,3 triliun). Komitmen investasi itu merupakan hasil pertemuan Presiden SBY dengan pimpinan kelima perusahaan tersebut.
Kelimanya adalah CEO Coca-Cola Amatil Terry Davis, CEO Theiss David Saxelby, CEO Ramsay Health Paul Ramsay, Presiden AIBC Chris Barnes, dan CEO Commonwealth Bank of Australia Ralph Nirris. ”Perkiraan investasinya USD 1 miliar,” kata Gita dalam penerbangan dari Sydney menuju Port Moresby, Papua Nugini, kemarin.
Secara rinci Gita menjelaskan, investasi tersebut merupakan kelanjutan bisnis yang dilakukan di Indonesia selama ini. ”Tapi, ada pula bentuk investasi baru yang mereka lakukan,” katanya.
Dia mencontohkan, Theiss menyatakan komitmennya mempercepat penggarapan dua proyek jalan tol yang konsesi investasinya telah mereka miliki di Pulau Jawa.
Business forum menjadi agenda terakhir SBY dalam kunjungan kenegaraann selama tiga hari di Negeri Kanguru itu. Kemarin siang SBY bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono, serta rombongan bertolak ke Port Moresby. Rombongan tiba di Bandara Internasional Port Moresby pukul 15.20 waktu setempat. SBY disambut PM Papua Nugini Michael Somare. SBY merupakan presiden Indonesia pertama sejak 1978 yang berkunjung ke PNG.
Sementara itu, kepastian ekstradisi Adrian Kiki Ariawan, terpidana seumur hidup kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Rp 1,5 triliun, masih belum jelas. Pertemuan Menkum HAM Patrialis Akbar dengan Jaksa Agung Australia Robb McClelland belum menemukan kepastian kapan mantan Dirut Bank Surya itu bisa dipulangkan ke tanah air.
’’Memang ada persoalan birokrasi yang cukup sulit dan panjang dalam proses ini,” kata Patrialis dalam penerbangan mengikuti kunjungan kenegaraan Presiden SBY dari Australia ke Papua Nugini kemarin (11/3). (fal/agm/oki)
http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=122084