Petani Tak Miliki Daya Tawar Sama Sekali
Posted by : muhammad yasir, 29 April 2011 06:34:52Kategori: Kinerja | Viewed : 396 | Rating:
BANYUWANGI, KOMPAS.com — Para petani di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, belum mempunyai daya tawar kuat untuk menentukan harga gabah mereka sampai saat ini. Harga gabah pun bertahan rendah Rp 2.700-Rp 2800 per kg kering panen.
Selama lebih kurang dua pekan harga gabah petani tak bergerak naik. Alasan utama pengepul membeli gabah murah dari petani adalah kadar air yang dinilai tinggi, lebih dari 25 persen.
Budiman, pengepul yang biasa membeli gabah petani di Kecamatan Srono, Banyuwangi, pada Jumat (1/4/2011) mengungkapkan, saat ini gabah yang dipanen petani memang terlalu basah. Oleh karena itu ia hanya berani membeli Rp 2.700 per kg kering panen.
Budiman mengaku butuh biaya tambahan untuk pengeringan. ”Jika biasanya pengeringan gabah selesai dalam sehari, kini butuh waktu hampir tiga hari,” katanya.
Gabah Suwarno, petani dari Desa Parijatah, Kecamatan Srono, misalnya, tergolong basah karena ketika digenggam gabah justru menggumpal.
Akan tetapi, menurut sejumlah petani, harga gabah kualitas baik pun ikut turun akibat pasaran gabah yang rendah. Tidak semua kualitas gabah yang panen pada saat ini rendah.
”Gabah saya yang sudah sepekan dipanen termasuk kering karena dipanen saat cuaca cerah. Tetapi tetap saja ditawar rendah karena harga pasaran tertinggi hanya Rp 2.800 per kg,” kata Masiyah, petani dari Gambor, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.
Menurut Solikhin, petani lain dari Desa Benelan, Kecamatan Kabat, harga gabah akan cepat turun jika kondisi cuaca buruk, padahal terkadang cuaca tak selalu buruk dalam sepekan.
Rendahnya harga gabah membuat petani tak mendapatkan untung. Sebab pada masa tanam kali ini mereka mengeluarkan modal yang lebih besar untuk menanam padi. Modal besar itu digunakan untuk membiayai penyemprotan pestisida guna melawan seran gan wereng batang coklat. Selain itu, anggaran upah buruh pun naik.
Madi, petani desa macan putih di Kecamatan Kabat bahkan merugi karena gagal panen. Tanamannya layu diserang wereng. Padahal, selain modal, ia sudah mengeluarkan uang tambahan sebanyak Rp 1 juta untuk penyemprotan pestisida sebanyak tujuh kali.
Guna memperkuat daya tawar petani, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada pertengahan Maret lalu mencoba mengenalkan lagi sistem resi gudang ke petani.
Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dengan resi gudang, petani bisa menyimpan gabah di lumbung milik PT Pertani. ”Resi yang menjadi bukti penyimpanan gabah itu pun bisa dijaminkan ke bank. Saat harga gabah tinggi, petani bisa menjual lagi,” katanya.
Diakui Anas, sistem resi gudang memang belum banyak diketahui petani. Oleh karena itu ia mencoba memopulerkannya lagi ke kelompok-kelompok tani. Harapannya petani bisa mempunyai daya tawar yang tinggi terhadap gabah hasil panen mereka.