SENSE OF URGENCY


Posted by : wahyudi hari siswanto, 08 Februari 2010 17:35:29
Kategori: Pengembangan | Viewed : 4 | Rating:



Seorang manajer mengeluh bahwa walaupun pencapaian target
bagiannya hampir selalu tercapai, ia merasa bahwa teman-teman di bagiannya
kurang berinisiatif untuk mengejar target baru dan kurang kreatif dalam mencari
tantangan baru. Bahkan, ada yang berkomentar mengenai dirinya sebagai orang
yang tidak pernah puas dan pesimis. “Sebenarnya yang saya inginkan adalah anak
buah bisa merasakan sense of urgency, sehingga mereka lebih siap dengan
perubahan pasar dan realitas kompetisi. Dalam perasaan nyaman begini, mana
mungkin mereka mengidentifikasi dan mendiskusikan potensi krisis sekaligus
kesempatan-kesempatan besar?”
Ketika pada tahun 1989 Stephen R. Covey mengentaskan konsep
manajemen waktu, dalam buku 7 HABITS , yang diantaranya mengemukakan
pentingnya membedakan hal yang “penting dan mendesak (urgen)” dan hal yang
“penting dan tidak mendesak”, kita dibuat menyadari betapa kita harus
membedakan antara apa yang ‘penting’ dan apa yang ‘urgen’. Stephen Covey
mengingatkan bahwa kita seringkali hanya berkonsentrasi pada yang hal yang
mendesak (urgen), yang sudah bermasalah dan harus cepat ditangani, karena
sebelumnya hal-hal ini diabaikan, tidak diperhatikan karena dianggap tidak
penting. Sekarang kita kurang lebih sudah lihat hasilnya : budaya mementingkan
“yang penting” menjadi semakin kuat. Buktinya kata ‘penting ‘menjadi sangat
popular di lingkungan pergaulan. “Ah, nggak penting….” kata seorang remaja
atau “Atasan saya hanya mengurusi yang ‘tidak penting’ …” demikian ujar
seorang karyawan perusahaan.
Mengutamakan hal yang “penting” tentunya merupakan sikap
antisipatif yang sangat positif, misalnya menyelesaikan laporan sebelum
waktunya, mengecek peralatan secara rutin, melaksanakan pengawasan berkala,
melakukan rapat reguler dan komunikasi efektif, sehingga kita bisa menekan
munculnya masalah yang urgen. Pertanyaannya, apakah perhatian terhadap halhal
yang penting ini juga mencakup perhatian kita terhadap terpeliharanya
mental waspada dan sikap “bergegas” kita dalam bekerja ?
Dalam dunia kerja dan bisnis sekarang, kita tentunya harus
mempertanyakan kapan masih bisa menerapkan faham “alon-alon asal
kelakon”. Kita bisa memilih mengatakan pada rekan kerja kita: “Ayo ini sudah
bulan oktober” atau “Ini masih bulan oktober”. Kecenderungan untuk hidup
‘enak’ , menutup mata dari kabar buruk dan dorongan untuk menghindar dari
kenyataan pahit, sering membuat kita menjerumuskan diri dan tim kita dalam
posisi ‘nina bobo’ alias comfort zone. Keadaan ini dipersubur bila tidak ada
ukuran yang obyektif mengenai kinerja dan sikap yang diinginkan, sehingga
tanpa terasa individu semakin nyaman berada di daerah abu abu dan
menghindari konfrontasi hitam putih.
Di sebuah bank klien saya, baru-baru ini beredar sebuah slogan
unik: “No business as usual”, yang agak bertentangan dengan budaya di dunia
perbankan yang biasanya mengembangkan sikap konservatif, mantap dan pasti.
Sentakan yang dilontarkan pimpinan perusahaan ternyata menghasilkan tingkat
kewaspadaan karyawan yang lebih baik, sehingga semangat kompetisi dan
memenangkan tantangan menjadi lebih kuat. Tentunya peningkatan
kewaspadaan ini bisa dicapai bila organisasi tidak bosan bosannya menyiapkan
sasaran-sasaran baru, meningkatkan tantangan penjualan, produktivitas
maupun kepuasan pelanggan, dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka
tentang kejadian enak dan tidak enak di dalam dan di luar perusahaan. Tidak
banyak “happy talk” lagi dalam meeting, namun komunikasi digantikan dengan
fakta-fakta mengenai pencapaian target, kesempatan di masa depan dan
keberhasilan orang luar. Kondisi inilah yang membangunkan individu agar tidak
terlalu banyak berkonsentrasi pada upaya ‘menyamankan diri’ dan mendorong
diri untuk bersikap waspada, dinamis dan berkeinginan untuk
menyambut tantangan baru atau “urgency” yang sesungguhnya.
Seorang salesman saya terperangah, ketika saya tanyakan sasaran
penjualan berikutnya, sesaat setelah baru saja kami sukses menutup sebuah
penjualan yang ‘manis’. Mungkin dalam hatinya ia berkata “Nggak ada matinya
ibu ini…”. Persoalannya, sense of urgency adalah sebuah siklus yang
berpedoman : “Success motivates more success”. Siklus 4-A, yang terdiri
dari Achieve – Assess – Activate dan Accelecate dimulai dari sebuah upaya
pencapaian tantangan (achievement) yang bila tercapai, segera dievaluasi
(assess), kemudian segera direvisi dan dihidupkan kembali (activate) untuk
memulai sesuatu yang baru lagi, sambil tak lengah mendorong dan menggenjot
energi (accelerate) untuk mengoptimalkan pencapaian hasil.
Edisi Februari II/2010
Human Resource and Training
Banyak sekali hal-hal yang bisa menyebabkan individu lengah
atau “slow down”, seperti menunggu keputusan, merayakan
keberhasilan, menyusun anggaran, faktor birokrasi dan proses di pihak
ketiga. Di sinilah sesungguhnya kekuatan kita diuji untuk tetap bergerak,
dan mengayuh enerji. Begitu kita berhasil atau “achieve” lagi, kita boleh
merayakan suksesnya. Namun, kita tidak boleh terlena karena dengan
segera kita pun perlu meng-“assess” dan membuat tantangan baru lagi.
“Sense of urgency “ hanya bisa didapatkan oleh individu yang mau
menceburkan diri ke dalam siklus yang bergerak kencang , bahkan
bergoyang.
Kita semua pasti setuju bahwa lebih mudah mengendalikan
obyek yang bergerak daripada diam. Berpatokan pada hal ini, kita bisa
mengadaptasi untuk lebih bersikap dinamis daripada statis. Seorang ahli
menyatakan bahwa langkah pertama untuk menghidupkan “sense of
urgency” adalah dengan berjalan kaki lebih cepat, sehingga kita juga
mensugesti diri sendiri bahwa kita sedang bergegas. Bersikap responsif,
misalnya dengan segera menjawab telpon, merespon email, voice mail,
blackberry , maupun sms, serta berorientasi ‘action’ seperti ini akan
mendorong individu tidak mengijinkan dirinya untuk mencari-cari alasan
menunda pekerjaan. Dalam berkomunikasi, kita pun bisa membiasakan
untuk tidak berbelit-belit, sehingga orang lain pun terpengaruh untuk
berbicara “to the point”. Hal ini membuat kita bisa mengefisiensikan banyak
waktu di dalam rapat dan pergaulan.
Kita mudah sekali melihat orang lain tidak mengadaptasi “sense of urgency”,
padahal kita sendiri pun barangkali mempunyai penyakit yang sama.
Karenanya , bergeraklah, “Do it now!”

Sumber: Experd Consultant
Edisi: Februari II/2010



Postingan lain dengan kategori yang sama


Tulis Komentar


Untuk menuliskan komentar silahkan login terlebih dahulu.


Komentar


HR Centro Bookstore
Kontributor HrCentro
Invite friends to join HRcentro
First Asia Consultants

Training & Development


SENSE_OF_URGENCY_100208.html