Sri Mulyani Sebut Inflasi dan Infrastruktur tantangan Indonesia
Posted by : muhammad yasir, 11 April 2011 00:48:02Kategori: Lain lain | Viewed : 386 | Rating:
DENPASAR--MICOM: Managing Director Bank Dunia yang juga mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa inflasi dan infrastruktur sebagai risiko yang harus dikelola ekonomi Indonesia. Meski secara keseluruhan perekonomian Indonesia berjalan baik.
”Ya (perekonomian Indonesia) berjalan dengan baik. Masih ada beberapa risiko yang mungkin harus dikelola, katakanlah inflasi dan masalah infrastruktur, dan lain-lain,” ujarnya usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bali Intercontinental Hotel, Jimbaran, Jumat (8/10) malam.
Dalam pertemuan berlangsung sekitar satu jam itu, Sri Mulyani memberikan masukan dan penjelasan kepada Presiden Yudhoyono tentang prospek ekonomi Indonesia dan ASEAN serta kondisi terkini perekonomian dunia.
Presiden didampingi Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Menteri Keuangan Agus Martowardoyo, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.
Sedangkan, Sri Mulyani didampingi Country Director Bank Dunia Indonesia Stefan G Koerbele, Lead Economist Bank Dunia Indonesia Shubham Chauduri, dan Penasihat Managing Director Bank Dunia Robert Saum.
Menurut Sri Mulyani, dalam pembahasan dengan Presiden dilakukan tukar pikiran tentang kondisi Indonesia serta pengalaman negara-negara lain dalam menghadapi pemulihan ekonomi dunia pascakrisis keuangan global pada 2008 dan tantangan terkini, seperti kenaikan harga pangan dan minyak mentah dunia.
”Pemerintah kan sudah menjelaskan perekonomian dan kita melakukan tukar pikiran. Jadi, ada pertukaran yang cukup bagus mengenai apa-apa yang bisa dipelajari dari pelajaran negara-negara lain maupun Indonesia sendiri punya pengalaman yang bisa di ’share’ dengan negara-negara lain,” tuturnya.
Sebab, menurut dia, terdapat karakteristik persoalan ekonomi yang sama di negara-negara berpenghasilan menengah dalam kondisi perekonomian dunia saat ini seperti masalah kesetaraan, kebutuhan infrastruktur, dan kemampuan menjaga perekonomian dari gejolak eksternal.
”Sehingga itu dijadikan semacam referensi untuk melihat apakah Indonesia dengan perencanaan dan kebijakan saat ini sedang dilakukan bisa mengatasi masalah itu,” kata Sri Mulyani yang membawahi ekonomi di negara-negara Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Timur dan Pasifik ini.
Selain secara khusus membahas Indonesia, lanjut Sri Mulyani, pertemuan tersebut juga membahas tentang proyeksi dan tantangan perekonomian global terkini. Misalnya, kenaikan harga pangan, harga minyak mentah dunia karena krisis di Timur Tengah, serta ancaman inflasi akibat kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif selama dua tahun terakhir guna mengatasi dampak krisis keuangan global 2008.
”Itu menyebabkan banyak negara berkembang di dunia mengalami overheating atau capacity constrained. Jadi, diskusi adalah mengenai bagaimana tantangan dunia untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi dan pada saat yang sama melihat risiko-risiko yang muncul dan bagaimana mekanisme negara-negara di dunia dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut,” jelasnya. (OL-12)