Uni Eropa Giat Bantu UMKM Indonesia
Posted by : wahyudi hari siswanto, 26 Februari 2011 15:34:18Kategori: Hubungan Industrial | Viewed : 190 | Rating:
KOMPAS.com - Minat negara-negara Uni Eropa untuk membantu pengembangan perekonomian Indonesia besar. Salah satunya terlihat dari upaya mereka memberi kontribusi 80 persen biaya pengembangan usaha mikro kecil dan menengah di enam provinsi Indonesia. Total biaya yang mereka kucurkan sebesar Rp 22 miliar.
Sebanyak 27 negara Uni Eropa mencanangkan program European Union Switch Asia dengan mentargetkan pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Program ini dimulai Februari 2010 hingga Januari 2014 mendatang.
Dalam kunjungannya ke DIY dan Jawa Tengah, Ketua Delegasi Parlemen Eropa Werner Langen mengatakan, salah satu sektor usaha yang akan dibantu Uni Eropa adalah sentra batik. Menurutnya, batik merupakan lambang budaya Indonesia yang khas dan ramah lingkungan.
Sementara itu, pelaksana program Uni Eropa, Program Manajer International Organization for Migration (IOM) Johan Grundberg mengatakan, hingga akhir Juni 2011 ditargetkan muncul sebanyak 4.300 pengusaha UMKM di tujuh kabupaten/kota DIY dan Jateng. Beberapa sektor usaha yang akan dikembangkan, antara lain sentra batik, peternakan, industri pembuatan makanan, kerajinan perak, pertanian organik, ternak kambing, dan ternak sapi.
”Ada dua strategi utama yang kami terapkan pada UMKM-UMKM, yaitu mengikutkan mereka pada pameran-pameran dan mendatangkan turis-turis asing ke sentra produksi mereka. Dengan demikian, mereka akan memiliki jaringan,” kata Johan, Jumat (25/2/2011) di sela kunjungan 10 delegasi Parlemen Uni Eropa di Klaten.
Rekonstruksi rumah
Selain pendampingan UMKM, negara-negara Uni Eropa juga giat membantu pemulihan pasca bencana di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY. Hingga Desember 2010, Java Reconstruction Fund (JRF), pelaksana program Uni Eropa telah merekonstruksi lebih dari 15.000 unit rumah dan membangun 1.900 infrastruktur di berbagai daerah.
”Selain merekonstruksi hunian dan membangun infrastruktur, JRF juga mendampingi sekitar 13.000 pengusaha UMKM. JRF berdiri pada saat proses pemulihan pascabencana gempa bumi dan tsunami tahun 2006 lalu. Melalui lembanga ini, kami bisa lebih dekat bekerjasama dengan pemerintah Indonesia,” kata Wakil kepala Delegasi Uni Eropa di Indonesia Erik Habers.
JRF merupakan fasilitas hibah yang didirikan untuk proses rekonstruksi bencana gempa bumi dan tsunami tahun 2006. Selanjutnya, program ini diperpanjang lagi hingga Desember 2012 untuk menanggapi dampak erupsi Gunung Merapi.
Total dana hibah yang terkumpul dari 27 negara Uni Eropa mencapai 94 juta dollar Amerika Serikat. Negara-negara yang berkontribusi, antara lain Uni Eropa, Belanda, Inggris, Bank Pembangunan Asia, Kanada, Denmark, dan Finlandia.